Afrah, Korban Perang Syiriah Afrah, demikian dia menyebut namanya saat saya berkenalan dengannya di kota Dallas, Texas, Amerika Serikat, 2015 tahun lalu. Suaranya pelan, bahasa Inggrisnya belum sempurna. Saya harus memasang pendengaran dengan baik jika ingin mengetahui maksud kalimat-kalimatnya. Wanita ini bukan warga Negara Amerika. Dia adalah korban konflik Syiria. Dia tertahan di tanah Paman Sam sejak kekerasan terjadi di negaranya. Sejak saat itu pula dia tidak pernah lagi berjumpa dengan suami dan keluarga besarnya. Afrah menginjak Amerika saat diundang menjadi peserta International Visitor Leadership Program (IVLP) tahun 2014. Program kementerian luar negeri Amerika ini, mengundang orang-orang muda dari seluruh belahan dunia yang dinilai memberikan kontribusi sosial yang baik kepada masyarakat. Afrah satu-satunya peserta dari Syiria tahun 2014. Saat berangkat, negaranya masih aman. Dia dilepas oleh suami dan keluarga besarnya di Bandara. Di Amerika, Afrah mengunjungi enam Negara bagian. Termasuk Texas. Ketika perang pecah, Afrah seperti yang dituturkannya kepada saya, tidak mengetahui kondisi itu. Padahal program di Amerika sisa bebeberapa hari selesai dan Afrah harus segera pulang sesuai izin viza. Perang itu dia ketahui justru dari sepasang suami istri yang sempat menjadi keluarga angkatnya selama beberapa hari di kota Dallas. Suami-istri ini adalah penganut nasrani yang taat. Keluarga ini pulalah yang menahan Afrah untuk menunda kepulangannya dengan alasan keamanan. Di negaranya, Afrah dikenal sebagai aktivis perempuan yang bisa saja membahayakan jiwanya ketika pulang. Apalagi Afrah sedang dalam keadaan hamil muda. Setelah sempat terhubung dengan suaminya via telepon, Afrah pun akhirnya memutuskan untuk memperpanjang masa tinggal di Dallas. Suami istri inilah yang mengurus administrasi izin tinggal dengan alasan kemanusiaan. Saya berkenalan dengan Afrah melalui orangtua angkatnya. Sepasang suami-istri ini mengundang saya, dan dua orang rekan lainnya di program IVLP pesta barbeque di rumahnya di pinggiran kota Dallas. Afrah berkisah, proses melahirkan dia lakukan di salah satu rumah sakit di Dallas. Orang tua angkatnya inilah yang menggurus segala keperluannya. Termasuk mengurus bayinya. Saya bisa melihat ketulusan pasangan suami istri ini (sayang saya lupa nama mereka). Mereka pulalah yang mencarikan rumah yang nyaman untuk Afrah dan anaknya. Termasuk membantu Afrah untuk mendapat dana bantuan dari pemerintah Amerika untuk biaya hidup bersama anaknya selama perang masih berkecamuk di negaranya. Perbedaan agama tak membuat sekat di antara mereka. Kemanusiaan memang tak seharusnya melihat latarbelakang. Keluarga ini bahkan sudah menganggap Afrah dan bayinya adalah anak mereka. “Anak-anak saya sudah berkeluarga dan tinggal jauh. Kalau kami sepi, kami jemput Afrah dan bayinya menginap di sini,” kata ibu angkat Afrah. Saat saya berkunjung ke Dallas, Afrah sedang mengurus surat izin mengemudi. Lagi-lagi keluarga ini yang membantu. Termasuk membantu membelikan mobil. Saya merasakan kehangatan dan ketulusan itu. Kami tidak bicara soal agama. Kami bicara tentang yang indah-indah di Amerika. Dan saya menjawab rasa penasaran mereka tentang Indonesia. Cinta itu pun saya rasakan di ayam panggang manisnya. Mereka memelukku hangat saat pamit. Dan dengan lirih berkat “I hope you visit again to our house”. Mereka mengantar sampai ke mobil dan memandang kami hingga tak terlihat lagi. ***
Afrah, Korban Perang Syiriah Afrah, demikian dia menyebut namanya saat saya berkenalan dengannya di kota Dallas, Texas, Amerika Serikat, 2015 tahun lalu. Suaranya pelan, bahasa Inggrisnya belum sempurna. Saya harus memasang pendengaran dengan baik jika ingin mengetahui maksud kalimat-kalimatnya. Wanita ini bukan warga Negara Amerika. Dia adalah korban konflik Syiria. Dia tertahan di tanah Paman Sam sejak kekerasan terjadi di negaranya. Sejak saat itu pula dia tidak pernah lagi berjumpa dengan suami dan keluarga besarnya. Afrah menginjak Amerika saat diundang menjadi peserta International Visitor Leadership Program (IVLP) tahun 2014. Program kementerian luar negeri Amerika ini, mengundang orang-orang muda dari seluruh belahan dunia yang dinilai memberikan kontribusi sosial yang baik kepada masyarakat. Afrah satu-satunya peserta dari Syiria tahun 2014. Saat berangkat, negaranya masih aman. Dia dilepas oleh suami dan keluarga besarnya di Bandara. Di Amerika, Afrah mengunjungi enam Negara bagian. Termasuk Texas. Ketika perang pecah, Afrah seperti yang dituturkannya kepada saya, tidak mengetahui kondisi itu. Padahal program di Amerika sisa bebeberapa hari selesai dan Afrah harus segera pulang sesuai izin viza. Perang itu dia ketahui justru dari sepasang suami istri yang sempat menjadi keluarga angkatnya selama beberapa hari di kota Dallas. Suami-istri ini adalah penganut nasrani yang taat. Keluarga ini pulalah yang menahan Afrah untuk menunda kepulangannya dengan alasan keamanan. Di negaranya, Afrah dikenal sebagai aktivis perempuan yang bisa saja membahayakan jiwanya ketika pulang. Apalagi Afrah sedang dalam keadaan hamil muda. Setelah sempat terhubung dengan suaminya via telepon, Afrah pun akhirnya memutuskan untuk memperpanjang masa tinggal di Dallas. Suami istri inilah yang mengurus administrasi izin tinggal dengan alasan kemanusiaan. Saya berkenalan dengan Afrah melalui orangtua angkatnya. Sepasang suami-istri ini mengundang saya, dan dua orang rekan lainnya di program IVLP pesta barbeque di rumahnya di pinggiran kota Dallas. Afrah berkisah, proses melahirkan dia lakukan di salah satu rumah sakit di Dallas. Orang tua angkatnya inilah yang menggurus segala keperluannya. Termasuk mengurus bayinya. Saya bisa melihat ketulusan pasangan suami istri ini (sayang saya lupa nama mereka). Mereka pulalah yang mencarikan rumah yang nyaman untuk Afrah dan anaknya. Termasuk membantu Afrah untuk mendapat dana bantuan dari pemerintah Amerika untuk biaya hidup bersama anaknya selama perang masih berkecamuk di negaranya. Perbedaan agama tak membuat sekat di antara mereka. Kemanusiaan memang tak seharusnya melihat latarbelakang. Keluarga ini bahkan sudah menganggap Afrah dan bayinya adalah anak mereka. “Anak-anak saya sudah berkeluarga dan tinggal jauh. Kalau kami sepi, kami jemput Afrah dan bayinya menginap di sini,” kata ibu angkat Afrah. Saat saya berkunjung ke Dallas, Afrah sedang mengurus surat izin mengemudi. Lagi-lagi keluarga ini yang membantu. Termasuk membantu membelikan mobil. Saya merasakan kehangatan dan ketulusan itu. Kami tidak bicara soal agama. Kami bicara tentang yang indah-indah di Amerika. Dan saya menjawab rasa penasaran mereka tentang Indonesia. Cinta itu pun saya rasakan di ayam panggang manisnya. Mereka memelukku hangat saat pamit. Dan dengan lirih berkat “I hope you visit again to our house”. Mereka mengantar sampai ke mobil dan memandang kami hingga tak terlihat lagi. ***
Afrah, Korban Perang Syiriah
BalasHapusAfrah, demikian dia menyebut namanya saat saya berkenalan dengannya di
kota Dallas, Texas, Amerika Serikat, 2015 tahun lalu.
Suaranya pelan, bahasa Inggrisnya belum sempurna. Saya harus memasang
pendengaran dengan baik jika ingin mengetahui maksud
kalimat-kalimatnya.
Wanita ini bukan warga Negara Amerika. Dia adalah korban konflik
Syiria. Dia tertahan di tanah Paman Sam sejak kekerasan terjadi di
negaranya. Sejak saat itu pula dia tidak pernah lagi berjumpa dengan
suami dan keluarga besarnya.
Afrah menginjak Amerika saat diundang menjadi peserta International
Visitor Leadership Program (IVLP) tahun 2014. Program kementerian luar
negeri Amerika ini, mengundang orang-orang muda dari seluruh belahan
dunia yang dinilai memberikan kontribusi sosial yang baik kepada
masyarakat.
Afrah satu-satunya peserta dari Syiria tahun 2014. Saat berangkat,
negaranya masih aman. Dia dilepas oleh suami dan keluarga besarnya di
Bandara. Di Amerika, Afrah mengunjungi enam Negara bagian. Termasuk
Texas.
Ketika perang pecah, Afrah seperti yang dituturkannya kepada saya,
tidak mengetahui kondisi itu. Padahal program di Amerika sisa
bebeberapa hari selesai dan Afrah harus segera pulang sesuai izin
viza.
Perang itu dia ketahui justru dari sepasang suami istri yang sempat
menjadi keluarga angkatnya selama beberapa hari di kota Dallas.
Suami-istri ini adalah penganut nasrani yang taat. Keluarga ini
pulalah yang menahan Afrah untuk menunda kepulangannya dengan alasan
keamanan. Di negaranya, Afrah dikenal sebagai aktivis perempuan yang
bisa saja membahayakan jiwanya ketika pulang. Apalagi Afrah sedang
dalam keadaan hamil muda.
Setelah sempat terhubung dengan suaminya via telepon, Afrah pun
akhirnya memutuskan untuk memperpanjang masa tinggal di Dallas. Suami
istri inilah yang mengurus administrasi izin tinggal dengan alasan
kemanusiaan.
Saya berkenalan dengan Afrah melalui orangtua angkatnya. Sepasang
suami-istri ini mengundang saya, dan dua orang rekan lainnya di
program IVLP pesta barbeque di rumahnya di pinggiran kota Dallas.
Afrah berkisah, proses melahirkan dia lakukan di salah satu rumah
sakit di Dallas. Orang tua angkatnya inilah yang menggurus segala
keperluannya. Termasuk mengurus bayinya. Saya bisa melihat ketulusan
pasangan suami istri ini (sayang saya lupa nama mereka). Mereka
pulalah yang mencarikan rumah yang nyaman untuk Afrah dan anaknya.
Termasuk membantu Afrah untuk mendapat dana bantuan dari pemerintah
Amerika untuk biaya hidup bersama anaknya selama perang masih
berkecamuk di negaranya.
Perbedaan agama tak membuat sekat di antara mereka. Kemanusiaan memang
tak seharusnya melihat latarbelakang. Keluarga ini bahkan sudah
menganggap Afrah dan bayinya adalah anak mereka. “Anak-anak saya sudah
berkeluarga dan tinggal jauh. Kalau kami sepi, kami jemput Afrah dan
bayinya menginap di sini,” kata ibu angkat Afrah.
Saat saya berkunjung ke Dallas, Afrah sedang mengurus surat izin
mengemudi. Lagi-lagi keluarga ini yang membantu. Termasuk membantu
membelikan mobil.
Saya merasakan kehangatan dan ketulusan itu. Kami tidak bicara soal
agama. Kami bicara tentang yang indah-indah di Amerika. Dan saya
menjawab rasa penasaran mereka tentang Indonesia. Cinta itu pun saya
rasakan di ayam panggang manisnya. Mereka memelukku hangat saat
pamit. Dan dengan lirih berkat “I hope you visit again to our house”.
Mereka mengantar sampai ke mobil dan memandang kami hingga tak
terlihat lagi. ***
Afrah, Korban Perang Syiriah
BalasHapusAfrah, demikian dia menyebut namanya saat saya berkenalan dengannya di
kota Dallas, Texas, Amerika Serikat, 2015 tahun lalu.
Suaranya pelan, bahasa Inggrisnya belum sempurna. Saya harus memasang
pendengaran dengan baik jika ingin mengetahui maksud
kalimat-kalimatnya.
Wanita ini bukan warga Negara Amerika. Dia adalah korban konflik
Syiria. Dia tertahan di tanah Paman Sam sejak kekerasan terjadi di
negaranya. Sejak saat itu pula dia tidak pernah lagi berjumpa dengan
suami dan keluarga besarnya.
Afrah menginjak Amerika saat diundang menjadi peserta International
Visitor Leadership Program (IVLP) tahun 2014. Program kementerian luar
negeri Amerika ini, mengundang orang-orang muda dari seluruh belahan
dunia yang dinilai memberikan kontribusi sosial yang baik kepada
masyarakat.
Afrah satu-satunya peserta dari Syiria tahun 2014. Saat berangkat,
negaranya masih aman. Dia dilepas oleh suami dan keluarga besarnya di
Bandara. Di Amerika, Afrah mengunjungi enam Negara bagian. Termasuk
Texas.
Ketika perang pecah, Afrah seperti yang dituturkannya kepada saya,
tidak mengetahui kondisi itu. Padahal program di Amerika sisa
bebeberapa hari selesai dan Afrah harus segera pulang sesuai izin
viza.
Perang itu dia ketahui justru dari sepasang suami istri yang sempat
menjadi keluarga angkatnya selama beberapa hari di kota Dallas.
Suami-istri ini adalah penganut nasrani yang taat. Keluarga ini
pulalah yang menahan Afrah untuk menunda kepulangannya dengan alasan
keamanan. Di negaranya, Afrah dikenal sebagai aktivis perempuan yang
bisa saja membahayakan jiwanya ketika pulang. Apalagi Afrah sedang
dalam keadaan hamil muda.
Setelah sempat terhubung dengan suaminya via telepon, Afrah pun
akhirnya memutuskan untuk memperpanjang masa tinggal di Dallas. Suami
istri inilah yang mengurus administrasi izin tinggal dengan alasan
kemanusiaan.
Saya berkenalan dengan Afrah melalui orangtua angkatnya. Sepasang
suami-istri ini mengundang saya, dan dua orang rekan lainnya di
program IVLP pesta barbeque di rumahnya di pinggiran kota Dallas.
Afrah berkisah, proses melahirkan dia lakukan di salah satu rumah
sakit di Dallas. Orang tua angkatnya inilah yang menggurus segala
keperluannya. Termasuk mengurus bayinya. Saya bisa melihat ketulusan
pasangan suami istri ini (sayang saya lupa nama mereka). Mereka
pulalah yang mencarikan rumah yang nyaman untuk Afrah dan anaknya.
Termasuk membantu Afrah untuk mendapat dana bantuan dari pemerintah
Amerika untuk biaya hidup bersama anaknya selama perang masih
berkecamuk di negaranya.
Perbedaan agama tak membuat sekat di antara mereka. Kemanusiaan memang
tak seharusnya melihat latarbelakang. Keluarga ini bahkan sudah
menganggap Afrah dan bayinya adalah anak mereka. “Anak-anak saya sudah
berkeluarga dan tinggal jauh. Kalau kami sepi, kami jemput Afrah dan
bayinya menginap di sini,” kata ibu angkat Afrah.
Saat saya berkunjung ke Dallas, Afrah sedang mengurus surat izin
mengemudi. Lagi-lagi keluarga ini yang membantu. Termasuk membantu
membelikan mobil.
Saya merasakan kehangatan dan ketulusan itu. Kami tidak bicara soal
agama. Kami bicara tentang yang indah-indah di Amerika. Dan saya
menjawab rasa penasaran mereka tentang Indonesia. Cinta itu pun saya
rasakan di ayam panggang manisnya. Mereka memelukku hangat saat
pamit. Dan dengan lirih berkat “I hope you visit again to our house”.
Mereka mengantar sampai ke mobil dan memandang kami hingga tak
terlihat lagi. ***