Sabtu, 05 Maret 2016

tes 2

apa kabar semuanya

2 komentar:

  1. Afrah, Korban Perang Syiriah
    Afrah, demikian dia menyebut namanya saat saya berkenalan dengannya di
    kota Dallas, Texas, Amerika Serikat, 2015 tahun lalu.
    Suaranya pelan, bahasa Inggrisnya belum sempurna. Saya harus memasang
    pendengaran dengan baik jika ingin mengetahui maksud
    kalimat-kalimatnya.
    Wanita ini bukan warga Negara Amerika. Dia adalah korban konflik
    Syiria. Dia tertahan di tanah Paman Sam sejak kekerasan terjadi di
    negaranya. Sejak saat itu pula dia tidak pernah lagi berjumpa dengan
    suami dan keluarga besarnya.
    Afrah menginjak Amerika saat diundang menjadi peserta International
    Visitor Leadership Program (IVLP) tahun 2014. Program kementerian luar
    negeri Amerika ini, mengundang orang-orang muda dari seluruh belahan
    dunia yang dinilai memberikan kontribusi sosial yang baik kepada
    masyarakat.
    Afrah satu-satunya peserta dari Syiria tahun 2014. Saat berangkat,
    negaranya masih aman. Dia dilepas oleh suami dan keluarga besarnya di
    Bandara. Di Amerika, Afrah mengunjungi enam Negara bagian. Termasuk
    Texas.
    Ketika perang pecah, Afrah seperti yang dituturkannya kepada saya,
    tidak mengetahui kondisi itu. Padahal program di Amerika sisa
    bebeberapa hari selesai dan Afrah harus segera pulang sesuai izin
    viza.
    Perang itu dia ketahui justru dari sepasang suami istri yang sempat
    menjadi keluarga angkatnya selama beberapa hari di kota Dallas.
    Suami-istri ini adalah penganut nasrani yang taat. Keluarga ini
    pulalah yang menahan Afrah untuk menunda kepulangannya dengan alasan
    keamanan. Di negaranya, Afrah dikenal sebagai aktivis perempuan yang
    bisa saja membahayakan jiwanya ketika pulang. Apalagi Afrah sedang
    dalam keadaan hamil muda.
    Setelah sempat terhubung dengan suaminya via telepon, Afrah pun
    akhirnya memutuskan untuk memperpanjang masa tinggal di Dallas. Suami
    istri inilah yang mengurus administrasi izin tinggal dengan alasan
    kemanusiaan.
    Saya berkenalan dengan Afrah melalui orangtua angkatnya. Sepasang
    suami-istri ini mengundang saya, dan dua orang rekan lainnya di
    program IVLP pesta barbeque di rumahnya di pinggiran kota Dallas.
    Afrah berkisah, proses melahirkan dia lakukan di salah satu rumah
    sakit di Dallas. Orang tua angkatnya inilah yang menggurus segala
    keperluannya. Termasuk mengurus bayinya. Saya bisa melihat ketulusan
    pasangan suami istri ini (sayang saya lupa nama mereka). Mereka
    pulalah yang mencarikan rumah yang nyaman untuk Afrah dan anaknya.
    Termasuk membantu Afrah untuk mendapat dana bantuan dari pemerintah
    Amerika untuk biaya hidup bersama anaknya selama perang masih
    berkecamuk di negaranya.
    Perbedaan agama tak membuat sekat di antara mereka. Kemanusiaan memang
    tak seharusnya melihat latarbelakang. Keluarga ini bahkan sudah
    menganggap Afrah dan bayinya adalah anak mereka. “Anak-anak saya sudah
    berkeluarga dan tinggal jauh. Kalau kami sepi, kami jemput Afrah dan
    bayinya menginap di sini,” kata ibu angkat Afrah.
    Saat saya berkunjung ke Dallas, Afrah sedang mengurus surat izin
    mengemudi. Lagi-lagi keluarga ini yang membantu. Termasuk membantu
    membelikan mobil.
    Saya merasakan kehangatan dan ketulusan itu. Kami tidak bicara soal
    agama. Kami bicara tentang yang indah-indah di Amerika. Dan saya
    menjawab rasa penasaran mereka tentang Indonesia. Cinta itu pun saya
    rasakan di ayam panggang manisnya. Mereka memelukku hangat saat
    pamit. Dan dengan lirih berkat “I hope you visit again to our house”.
    Mereka mengantar sampai ke mobil dan memandang kami hingga tak
    terlihat lagi. ***

    BalasHapus
  2. Afrah, Korban Perang Syiriah
    Afrah, demikian dia menyebut namanya saat saya berkenalan dengannya di
    kota Dallas, Texas, Amerika Serikat, 2015 tahun lalu.
    Suaranya pelan, bahasa Inggrisnya belum sempurna. Saya harus memasang
    pendengaran dengan baik jika ingin mengetahui maksud
    kalimat-kalimatnya.
    Wanita ini bukan warga Negara Amerika. Dia adalah korban konflik
    Syiria. Dia tertahan di tanah Paman Sam sejak kekerasan terjadi di
    negaranya. Sejak saat itu pula dia tidak pernah lagi berjumpa dengan
    suami dan keluarga besarnya.
    Afrah menginjak Amerika saat diundang menjadi peserta International
    Visitor Leadership Program (IVLP) tahun 2014. Program kementerian luar
    negeri Amerika ini, mengundang orang-orang muda dari seluruh belahan
    dunia yang dinilai memberikan kontribusi sosial yang baik kepada
    masyarakat.
    Afrah satu-satunya peserta dari Syiria tahun 2014. Saat berangkat,
    negaranya masih aman. Dia dilepas oleh suami dan keluarga besarnya di
    Bandara. Di Amerika, Afrah mengunjungi enam Negara bagian. Termasuk
    Texas.
    Ketika perang pecah, Afrah seperti yang dituturkannya kepada saya,
    tidak mengetahui kondisi itu. Padahal program di Amerika sisa
    bebeberapa hari selesai dan Afrah harus segera pulang sesuai izin
    viza.
    Perang itu dia ketahui justru dari sepasang suami istri yang sempat
    menjadi keluarga angkatnya selama beberapa hari di kota Dallas.
    Suami-istri ini adalah penganut nasrani yang taat. Keluarga ini
    pulalah yang menahan Afrah untuk menunda kepulangannya dengan alasan
    keamanan. Di negaranya, Afrah dikenal sebagai aktivis perempuan yang
    bisa saja membahayakan jiwanya ketika pulang. Apalagi Afrah sedang
    dalam keadaan hamil muda.
    Setelah sempat terhubung dengan suaminya via telepon, Afrah pun
    akhirnya memutuskan untuk memperpanjang masa tinggal di Dallas. Suami
    istri inilah yang mengurus administrasi izin tinggal dengan alasan
    kemanusiaan.
    Saya berkenalan dengan Afrah melalui orangtua angkatnya. Sepasang
    suami-istri ini mengundang saya, dan dua orang rekan lainnya di
    program IVLP pesta barbeque di rumahnya di pinggiran kota Dallas.
    Afrah berkisah, proses melahirkan dia lakukan di salah satu rumah
    sakit di Dallas. Orang tua angkatnya inilah yang menggurus segala
    keperluannya. Termasuk mengurus bayinya. Saya bisa melihat ketulusan
    pasangan suami istri ini (sayang saya lupa nama mereka). Mereka
    pulalah yang mencarikan rumah yang nyaman untuk Afrah dan anaknya.
    Termasuk membantu Afrah untuk mendapat dana bantuan dari pemerintah
    Amerika untuk biaya hidup bersama anaknya selama perang masih
    berkecamuk di negaranya.
    Perbedaan agama tak membuat sekat di antara mereka. Kemanusiaan memang
    tak seharusnya melihat latarbelakang. Keluarga ini bahkan sudah
    menganggap Afrah dan bayinya adalah anak mereka. “Anak-anak saya sudah
    berkeluarga dan tinggal jauh. Kalau kami sepi, kami jemput Afrah dan
    bayinya menginap di sini,” kata ibu angkat Afrah.
    Saat saya berkunjung ke Dallas, Afrah sedang mengurus surat izin
    mengemudi. Lagi-lagi keluarga ini yang membantu. Termasuk membantu
    membelikan mobil.
    Saya merasakan kehangatan dan ketulusan itu. Kami tidak bicara soal
    agama. Kami bicara tentang yang indah-indah di Amerika. Dan saya
    menjawab rasa penasaran mereka tentang Indonesia. Cinta itu pun saya
    rasakan di ayam panggang manisnya. Mereka memelukku hangat saat
    pamit. Dan dengan lirih berkat “I hope you visit again to our house”.
    Mereka mengantar sampai ke mobil dan memandang kami hingga tak
    terlihat lagi. ***

    BalasHapus